Langsung ke konten utama

Novel - The SIMULATION Eps. 002

 


SECRET WEAPON*

Rey berlari dengan senjata laser dikedua tangannya. Ia menembak dengan berani ke semua robot penyerang di Distrik 3 agar tak tembus dan memasuki Distrik 4.

Para penyerang dari Rusia yang bekerjasama dengan Siberia, menyerang Great Ruler menggunakan berbagai jenis robot dengan manusia di dalamnya.

Mereka masih belum bisa menemukan teknologi SIMULATOR seperti yang diterapkan di Great Ruler. Hal inilah yang membuat mereka datang untuk mengambil semua ide kejeniusan milik Presiden Roman.

Semua pasukan robot dari segala level dikerahkan oleh Presiden Roman, adiknya Presiden Morlan tak diam saja melihat negaranya diporak-porandakan.

Ia mengambil inisiatif mengeluarkan senjata rahasianya yang tak diketahui oleh semua orang di Great Ruler. Hanya orang-orang yang bekerja dengannya saja yang mengetahui hal itu.

Morlan pergi meninggalkan pusat komando ke Gerbang Kermogal. Sebuah gerbang besar tersembunyi buatannya dimana ia menyimpan senjata rahasianya.

Gerbang itu berada di Distrik 5 bagian terluar. Kawasan itu dijaga ketat oleh para pasukan robot level D dengan senjata besarnya.

"Open the gate!" teriaknya lantang memberi perintah kepada penjaga gerbang.

TETT ... TET ... TETT ....

"RRRR ... ROUGH ... ARRRR ...."

Terdengar suara binatang buas mengerang kencang membuat semua orang yang mendengar bergidik ngeri. Para penjaga di dalam robot itu menelan ludah.

Terlihat seekor serigala mutan yang bisa berdiri layaknya manusia. Taring yang tajam dengan liur yang menetes dari mulutnya serta mata merah menyala dengan tatapan tajam.

Kukunya yang runcing bagaikan pisau, mampu merobek dan memotong baju tempur sebuah robot. Morlan tersenyum miring.

Hewan itu dipenjara dalam sebuah jeruji besi besar yang dialiri listrik. Bulunya hitam dan kasar seperti sabut kelapa.

Gerak-gerik hewan itu seperti perpaduan antara manusia dan hewan. Morlan masuk ke sebuah ruangan berperisai yang membuat mahluk itu tak bisa menyerangnya. Serigala mutan itu menatap Morlan tajam.

"Apa kau sudah memasang pelacak di lehernya?" tanya Morlan pada petugas kendali di penjara itu.

"Sudah, Tuan."

"Hmm ... bagaimana dengan kejutannya?" tanya Morlan lagi yang balas menatap tajam serigala mutan itu.

"Sudah, Tuan. Semua sesuai perintah."

"Bagus. Lepaskan dia," ucap Morlan dengan senyum liciknya.

Semua orang yang berada di ruangan itu tertegun.

"Tapi Tuan. Sampai sekarang kita tak bisa mengendalikan naluri membunuhnya. Bagaimana jika salah target? Bagaimana jika mahluk ini malah menyerang orang-orang kita?" tanya salah seorang petugas cemas.

Marlon marah karena perintahnya ditentang. Ia pun langsung mencekik petugas itu. Semua orang terkejut dan beberapa langsung berdiri dari kursi kerjanya.

"Oleh karena itu, kita memasang alat pengendali di otaknya, agar kita bisa memerintahnya. Apa kau paham?" ucap Morlan menatap petugas yang sudah kehabisan nafas itu tajam.

"Yes, Sir. I-I understand ...." ucapnya lirih.

"Good. Release," ucap Morlan seraya melepaskan cengkraman di leher petugas itu.

Petugas itu kembali bernafas lega. Ia memegangi lehernya yang sakit. Semua orang menatap petugas itu seksama. Mereka sama khawatirnya jika mahluk itu tak bisa dikendalikan dan malah membunuh banyak jiwa. Dengan terpaksa, TIT!

NGEKK ....

TET ... TET ... TET ....

Jeruji besi itupun terbuka. Mahluk itu masih mengerang dan mondar-mandir dengan keempat kakinya di atas tanah menatap jeruji yang mulai terbuka lebar.

Mahluk itu perlahan jalan ke depan dan mengendus udara di sekelilingnya. Sebuah aroma baru tercium olehnya. Gerbang Kermogal terbuka lebar untuknya.

"GGRRRR ... AAUUUUU!"

Lolongan nyaring melengking terdengar hingga ke seluruh penjuru distrik. Semua orang tertegun dan diam seketika.

"Ohh! Kau dengar itu, Sandra?" tanya Elis terkejut dan langsung memegang tangan Sandra erat.

"Yes ... yes ... i hear it!" jawabnya menengok ke segala arah mencari asal suara itu.

Tiba-tiba, terdengar suara teriakan dan rintihan dari Distrik 5. Semua orang yang berada di tempat evakuasi saling memandang. Mereka penasaran dengan apa yang terjadi di luar sana.

Presiden Morlan terlihat fokus menatap mahluk itu yang berlari dan menyerang para robot penyerang dari Siberia yang berwarna putih. CCTV dikawasan Distrik 5 diaktifkan, fokus mengikuti pergerakan mahluk itu.

Kuku tajamnya langsung menembus baju robot seperti kertas. Semua petugas di Gerbang Kermogal terlihat kagum. Darah bercecer dimana-mana, mayat pasukan penyerang bergelimpangan di segala penjuru. Tiba-tiba ....

SWOOSH! BLARRR!

"AAAARRRRR!"

Serigala mutan itu merintih kesakitan karena sebuah misil kecil ditembakkan ke arahnya oleh pasukan penyerang dari Rusia.

Mahluk itu marah. Herannya ia tak berdarah, kulitnya begitu keras bagai baja. Morlan tersenyum puas. Mahluk itu langsung berlari ke arah penembak misil yang bersembunyi dalam tank-nya.

BRANGG!

"HAARRGGGG!!"

Mahluk itu melompat ke atas tank dan meraung kencang. Ia menusukkan kelima kuku runcingnya ke baja tank.

Perisai tank itu tertembus. Tank itu bergerak dan menggerakkan moncongnya agar mahluk itu teralihkan.

Pasukan penyerang dari Siberia datang. Mereka menembaki mutan itu dengan membabi buta. Mahluk itu makin marah. Ia menggigit moncong tank itu dan menariknya kuat.

TANGG!

Moncong itu terlepas. Semua orang tertegun. Serigala itu melemparkan moncong tank ke sembarang tempat dari mulutnya. Kini ia mengendap dengan posisi siap menerkam dengan keempat kakinya. Para penyerang ketakutan.

"FIREEE!" teriak salah seorang penyerang dan mulai menembakkan semua amunisinya ke arah serigala mutan itu.

Mutan itu meraung kesakitan, meski tak mati, tapi ia mengalami luka-luka di sekujur tubuhnya. Rey dan pasukannya yang berhasil mengalahkan para robot penyerang di Distrik 4 ikut mendengar raungan mahluk tersebut.

"Pusat, apa yang terjadi? Suara apa itu?" tanya Rey lewat alat komunikasi yang terhubung di telinganya.

"Visual melihat seekor serigala, Capt. Tapi, ukuran tubuhnya 3 kali dari serigala pada umumnya. Mahluk itu tidak wajar. Ia bisa berdiri!" pekik petugas dari pusat komando.

Rey dan para pasukannya saling memandang. Mereka cemas.

"Mahluk itu, dia lawan atau kawan?" tanya Rey mulai ngos-ngosan dalam ruang SIMULATOR.

"No idea, Capt. Dia tiba-tiba datang. Tapi, jika melihat aksinya, dia di pihak kita. Mahluk itu mengalahkan semua pasukan robot dari Siberia dan Rusia yang masuk ke Distrik 5," ucap dari pusat komando.

"District 5 ... what? Mahluk itu bisa menyerang tempat evakuasi para warga. Berikan aku koordinatnya. Aku akan menghentikan mahluk itu!" pekik Rey panik karena ia teringat akan isterinya, Sandra yang berada di tempat evakuasi dekat distrik itu.

"Ai ai, captain!" jawab petugas navigator di ruang SIMULATOR.

"Mola, berikan diskripsi dan visual mengenai mahluk itu," perintah Rey pada komputer SIMULATOR.

"Yes, Captain Rey."

Lalu munculah visual serigala itu dalam tampilan kacamata fiber Rey dan para pasukannya.

Mereka langsung berdiri mematung. Mereka tertegun melihat penampakan mahluk itu. Rey menelan ludah, ia terlihat takut dengan jantung berdebar kencang.

"What the hell that thing?" ucap salah seorang pasukan dalam team Rey tertegun melihat sosok mahluk menyeramkan tersebut.

Rey menguatkan hatinya.

"Mola, bagaimana cara mengalahkan mahluk itu?" tanya Rey pada SIMULATOR.

"Ada satu cara, Captain. Dengan pedang lasermu. Penggal kepalanya. Kulitnya anti peluru, hanya senjata yang memiliki daya ledak tinggi yang bisa membunuhnya," jelas SIMULATOR memberikan solusi.

"Oke. Team R. Segera siapkan pedang laser kalian. Bunuh mahluk itu. Penggal kepalanya. Apa kalian mengerti?" ucap Rey lantang ke seluruh pasukannya.

"Yes, Capt!" jawab mereka serempak.

Segera Rey berlari menuju ke Distrik 5 sesuai arahan navigator. Rey menyiapkan strateginya bagaimana melumpuhkan mahluk itu. Para pasukannya paham. Mereka berpencar.

Tanah di Great Ruler sudah kering sepenuhnya karena langit dalam benteng sudah ditutup dengan perisai baja anti peluru.

Perlahan, perisai langit dibuka. Langit menjadi berwarna merah jingga dengan bulan besar terlihat di atas langit.

Fenomena alam yang aneh ini sering muncul semenjak perang nuklir dalam perang dunia ke 4 beberapa tahun lalu.

Terlihat mahluk itu mendongak ke atas menatap langit merah jingga dengan seksama.

"AU ... AUU ... AUUUUUU ... UU ...UUU!"

Mahluk itu kembali melolong. Rey dan pasukannya mengendap di balik dinding bangunan di sekitar Distrik 5. Mereka akhirnya melihat sosok mahluk itu.

Terlihat mahluk itu sedang merobek baju besi para robot dan memakan manusia yang terbungkus dalam baju robot tersebut.

Mahluk itu menumpuk potongan-potongan mayat seperti gunung dan berjongkok di atasnya.

Para pasukan Rey begitu jijik dan miris melihatnya. Hewan itu memakan para korbannya dengan rakus hingga tubuhnya berlumur darah.

Mahluk itu terlihat asik mengunyah sebuah tengkorak manusia hingga suara gertakan tulang tempurung otak manusia tersebut menetes bersama air liur dari mulut mahluk itu.

Nyali para pasukan Rey ciut seketika. Presiden Roman yang mendengar kabar ini langsung bergegas menuju ke ruang SIMULATOR dimana Rey dan pasukannya berada. Ia terlihat panik dan cemas.

"Dari mana asal mahluk itu?" tanya presiden Roman kepada petugas di pusat komando.

"Jika dilihat dari jejaknya, ia berasal dari benteng terluar di Distrik 5. Ada sebuah benteng dan pintu di sana, Presiden," jelas petugas sembari menunjukkan visual benteng Kermogal.

Presiden Roman menatapnya seksama. Ia tertegun.

"Bagaimana bisa benteng itu dibuka? Siapa yang ada di sana? Dimana Morlan?" tanya Roman panik.

"Kami tidak tahu, Presiden."

Mata Roman terbelalak. Ia langsung meminta petugas komunikasi menyambungkan ke semua koneksi yang bisa terhubung ke dalam gerbang itu. Petugas itu pun berhasil tersambung.

"Morlan, apa ini perbuatanmu?" tanya Roman langsung tanpa basa basi.

"Bagaimana, bagus 'kan? Dia membunuh semua penyerang. Ia bisa menjadi senjata andalan kita, Kak," ucap Morlan bangga.

"Hentikan mahluk itu sekarang! Mahluk itu menuju ke tempat evakuasi warga!" pekik Roman cemas.

"Tenang saja, aku akan mengembalikan ia ke kandang begitu semua penyerang sudah tewas," jawab Morlan sembari menyilangkan kedua tangan di dadanya.

"Semua penyerang sudah tewas. Mereka sudah meninggalkan Great Ruler. Segera masukkan dia kembali ke kandangnya sebelum ada korban jiwa," ucap Roman yang tak bisa menenangkan hatinya yang panik jika mahluk itu menyerang warganya.

"Hah, cerewet sekali. Baiklah," jawab Morlan malas.

"Hei, segera kembalikan dia ke kandang." ucap Morlan memberi perintah pada petugas pengendali.

"Yes, Sir."

KLIK!

Suasana dalam gerbang hening seketika. Morlan menatap petugas itu seksama. Petugas itu ikut bingung. Ia kembali memencet tombol itu.

KLIK!

Namun, tak ada reaksi dari mahluk itu. Mutan itu masih berjalan dengan kedua kakinya membawa sebuah kaki penyerang dan memakannya dengan santai.

Rey masih mengikuti mahluk itu diam-diam. Ia mencari waktu yang tepat untuk menyerangnya.

Tiba-tiba, KREKK!

Semua orang tertegun. Salah satu pasukan Rey tak sengaja menginjak serpihan senjata yang ada di atas tanah. Semua orang menatapnya seksama.

Mahluk itu langsung meletakkan kedua kaki depannya di atas tanah. Ia membuang kaki mayat begitu saja. Mahluk itu menoleh ke asal suara. Kini ia melihat Rey dan pasukannya. Para pasukan Rey panik seketika.

"FIRE!"

DOOR! DOOR! DOOR!

Semua senjata langsung diarahkan ke mahluk itu dan menembakkan seluruh amunisinya tanpa tersisa.

"ARRGGGGG! GGGARRRRR!"

Raung mahluk itu kesakitan karena tembakan pasukan Rey. Dengan sigap, Rey langsung mengaktifkan pedang lasernya. Dua tentara yang bersamanya ikut mengaktifkan. Namun, sistem memberinya peringatan.

"ATTENTION. LOW BATTERY."

Rey terkejut. Ia menggunakan pedang laser sedari tadi saat di Distrik 3 untuk membunuh para robot penyerang, tapi Rey tak gentar.

Ia tetap gigih demi melindungi pasukannya dan isterinya. Ia tak ingin mahluk itu mendatangi tempat evakuasi dimana isteri dan seluruh warga Great Ruler berlindung di sana.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Novel - THE INTERNAL

  Chapter 01. Bug dalam Game Satu juta orang terjebak di dalam game "The Internal" game virtual yang ternyata memaksa player untuk tetap berada di dalam dunia virtual jika belum menyelesaikan misi dalam game ini. Hal ini disadari oleh direktur A.I.C (adalah perusahaan di bidang IT) dan segera melakukan rapat terbatas bersama seluruh staff dan programmer dari game ini yaitu "Yeon-Jin". Dalam Rapat tersebut ditemukanlah bahwa telah terjadi error atau bug yang diakibatkan oleh proses Upgrade tidak sempurna. dalam hal ini "Ye-Jun" menyatakan memang server sempat mati sebentar" Ye-Jun : " server sempat down 1 menit karena listrik mati dan listrik cadangan tidak otomatis saat itu" Ae-Rin : " terus bagaimana ini pa!?" tanya Ae-rin sekretaris ye-jun khawatir. Ye-Jun : "kita harus memperbaiki bug tentunya, tapi tidak mungkin melakukan upgrade saat ini, karena banyak pemain dalam game" Ae-Rin : "

Novel - The SIMULATIONS Eps. 001

  The Great Ruler. Sebuah negara besar di benua Asia yang kini menjadi sebuah kerajaan terkuat di benua tersebut. Di tiap benua yang ada di seluruh dunia, memiliki sebuah kerajaan terkuat dan sisanya negara-negara kecil yang bertahan dari sisa-sisa perang dunia keempat yang memporak-porandakan dunia. Efek peperangan berimbas ke seluruh dunia tanpa terkecuali. Seluruh negara di dunia saling berperang. Yang dulunya sekutu menjadi musuh. Tak ada rasa saling percaya antar negara yang satu dengan yang lainnya. Namun, dari sebuah bencana pasti ada hikmah di balik semua malapetaka. Mereka mulai melakukan gencatan senjata setelah semua sumber daya di negeri mereka mulai menipis. Banyak nyawa yang hilang akibat perang. Tanah tandus, sungai mengering, limbah dari pembuatan senjata membuat banyak daerah tak bisa dihuni karena pekatnya asap dan bau menyengat yang menimbulkan banyak penyakit dan kematian. Barang-barang tambang digerus hingga tak tersisa hanya untuk mengembangkan