Langsung ke konten utama

Novel - The SIMULATIONS Eps. 001

 

The Great Ruler. Sebuah negara besar di benua Asia yang kini menjadi sebuah kerajaan terkuat di benua tersebut.

Di tiap benua yang ada di seluruh dunia, memiliki sebuah kerajaan terkuat dan sisanya negara-negara kecil yang bertahan dari sisa-sisa perang dunia keempat yang memporak-porandakan dunia. Efek peperangan berimbas ke seluruh dunia tanpa terkecuali.

Seluruh negara di dunia saling berperang. Yang dulunya sekutu menjadi musuh. Tak ada rasa saling percaya antar negara yang satu dengan yang lainnya.

Namun, dari sebuah bencana pasti ada hikmah di balik semua malapetaka.

Mereka mulai melakukan gencatan senjata setelah semua sumber daya di negeri mereka mulai menipis.

Banyak nyawa yang hilang akibat perang. Tanah tandus, sungai mengering, limbah dari pembuatan senjata membuat banyak daerah tak bisa dihuni karena pekatnya asap dan bau menyengat yang menimbulkan banyak penyakit dan kematian.

Barang-barang tambang digerus hingga tak tersisa hanya untuk mengembangkan senjata agar menjadi yang terkuat.

Namun, perlahan dengan merintihnya bumi, para pemerkosa kekayaan alam itu mulai menyadari kesalahan dan kerakusannya. Mereka mulai iba pada bumi yang hampir tak bisa dihuni lagi.

Migrasi besar-besaran terjadi di seluruh dunia. Para penduduk dunia pindah dari satu kota ke kota lain, dari satu negara ke negara lain.

Hewan-hewan yang selamat mulai bermigrasi meninggalkan habitatnya karena hutan yang terus dibabat membuat mereka kehilangan makanan dan tempat tinggalnya.

Hewan-hewan diburu untuk penyambung hidup para pengungsi. Dunia sudah mirip dengan jaman purbakala dimana hanya naluri membunuh untuk bertahan hidup, yang kuat menindas yang lemah dan yang lemah menjadi budak bagi yang berkuasa.

Namun, seiring berjalannya waktu, rasa kemanusiaan pun kembali muncul karena perselisihan yang tak berkesudahan.

Di mana dulu jika mereka bertemu orang dari lain negara selalu timbul perkelahian, kini mereka mulai kembali untuk saling merangkul dan bahu membahu memperbaiki nasib untuk anak cucu mereka hingga terdengar sebuah negara bernama The Great Ruler.

Sebuah negara yang konon katanya masih memiliki pepohonan, sungai yang mengalir dengan air yang jernih, lahan pertanian dan tambang yang kaya, membuat orang-orang berbondong-bondong ke sana untuk membuktikannya.

Sebuah negara yang memiliki benteng melintang dan menjulang tinggi dari Utara ke Selatan, Timur ke Barat dan tak terlihat di mana ujung dari benteng kokoh itu membuat orang-orang yang melihatnya begitu takjub.

Mereka yakin bahwa kerajaan di dalamnya pasti menjanjikan hidup yang lebih baik untuk mereka yang ingin mengadu nasib.

Namun, tak semua orang bisa masuk dan tinggal di Great Ruler. Hanya orang-orang berbakat yang bisa tinggal di dalam sana.

Tentu saja, sistem seleksi yang ketat ini membuat semua orang makin termotivasi untuk bisa tinggal di dalamnya.

Sebuah layar lebar terpampang di samping pintu baja Great Ruler yang menayangkan cuplikan kehidupan harmonis, nyaman, tentram dan damai di dalam sana membuat semua orang begitu antusias ingin hidup di dalamnya.

Orang-orang yang tak lulus seleksi begitu putus harapan. Pemimpin Great Ruler-Presiden Bidang Tekno bernama Roman yang dikenal bijak, jenius dan baik hatinya-mengizinkan para orang-orang yang tak bisa tinggal di Great Ruler untuk membuat kota kecil di luar benteng.

Orang-orang itu pun menganggap Presiden Roman orang yang sangat adil. Mereka membuat kota-kota kecil dengan berbagai ciri khasnya.

Hal ini menarik perhatian Presiden Roman. Maka dibuatlah pembagian wilayah bagi orang-orang itu.

Mereka begitu senang karena tetap dipedulikan. Tiap satu minggu sekali, para orang-orang jenius dari bidang masing-masing keluar benteng membagikan ilmu kepada mereka bagaimana mengolah tanah, air dan menanam pohon.

Kehidupan harmonis dan ladang hijau pun mulai tampak di depan benteng Great Ruler.

Ternyata, hal ini menimbulkan kebencian dalam diri saudara kembar Presiden Tekno, Presiden bidang Sains-Morlan.

Morlan menganggap, bahwa yang dilakukan Roman hanya membuang-buang waktu dan menghabiskan banyak biaya.

Dia merasa, orang-orang yang tak bisa hidup di Great Ruler hanya sampah dan gelandangan. Menyusahkan dan membawa hal buruk bagi negaranya.

Hal inilah yang membuat awal perselisihan dari dua saudara kembar ini. Meski begitu, Morlan begitu dihormati karena kejeniusannya dalam mengobati berbagai penyakit di Great Ruler.

Semua wabah yang pernah menyerang negaranya dari para penyerang kala itu membuat dirinya menjadi legenda.

Dia memiliki laboratorium super besar di Great Ruler dengan berbagai peralatan canggih di dalamnya. Terlihat perbedaan bidang keahlian di sini.

Para orang-orang yang bekerja di bidang sains selalu memakai jas laboratorium berwarna putih dan hampir semuanya berkacamata, hanya Morlan yang tidak.

Sedang di bidang Tekno dari kubu Presiden Roman, di mana keahliannya dalam membuat senjata sebagai pertahanan utama di Great Ruler, berpakaian serba hitam.

Kini, Great Ruler sudah terlihat seperti kota masa depan. Mereka mengurangi keterlibatan manusia dalam tubuh sebuah robot lagi karena resiko kematian yang tinggi.

Meski begitu, masih ada beberapa robot penjaga dengan manusia di dalamnya karena desakan dari Wakil Presiden Lala karena merasa sisi kemanusiaan dari seorang manusia tetap dibutuhkan dalam pengambilan keputusan.

Robot yang berisi manusia bertugas sebagai penjaga di beberapa lokasi tambang dan balik benteng.

Kini, mereka menggunakan sistem yang tersambung dalam pikiran dan motorik yang disebut "SIMULATION" dalam mengendalikan robot-robotnya.

Di mana seorang pengendali yang disebut "USER" masuk ke dalam sebuah ruangan khusus dengan sebuah kacamata fiber sebagai visual akan robot yang mereka kendalikan.

Mereka mengenakan seragam khusus berwarna hitam abu-abu elastis yang dilengkapi sensor di seluruh tubuhnya dengan pin-pin logam yang ditempelkan mulai dari kepala hingga ke kaki.

Mereka bisa bergerak bebas di dalam ruang simulasi itu. Untuk menjadi seorang User, mereka harus melewati banyak tes hingga 5 level.


Tes kesehatan, tes kejiwaan, tes IQ, tes fisik dan tes strategi. Bahkan robot yang dikendalikan pun memiliki 5 level.

Malam itu, 5 tahun silam. Hujan deras melanda The Great Ruler.

Sandra sedang menyiapkan makan malam romantis dengan suaminya sebagai perayaan pernikahan mereka yang ketiga di Apartment khusus para anggota militer. Terlihat, rona kebahagiaan di wajah Sandra.

Tiba-tiba, seseorang masuk dari pintu depan rumah susunnya dengan tergesa. Sandra mendatangi orang tersebut.

Ternyata lelaki itu adalah suaminya-Rey. Sandra langsung berlari ke arahnya dengan senyum terkembang karena Rey pulang lebih awal.

"Kau sudah pulang?" tanya Sandra gembira.

Rey menatap Sandra seksama. Ia basah kuyup dengan wajah panik.

"Sayang, maaf. Aku harus segera pergi. Panggilan darurat datang. Great Ruler diserang. Mereka sudah memasuki Distrik 1. Jika aku tak menghentikannya, mereka bisa memasuki pemukiman kita. Kau bisa dalam bahaya," ucap Rey cemas memegang kedua lengan Sandra kuat.

Sandra terlihat kesal. Bukan seperti ini harapan untuk perayaan 3 tahun pernikahannya. Dia juga bermaksud memberikan kejutan pada suaminya.

"Kenapa harus kau? Bukankah masih ada Jenderal? Kau hanya Kapten pasukan," ucap Sandra tak habis pikir kenapa suaminya yang ditugaskan.

"Jenderal ... mm ... kesehatan Jenderal membuatnya tak bisa pergi berperang. Aku harus pergi menggantikannya," ucap Rey sembari melepas pakaiannya dan mengganti dengan baju tempurnya.

"Tapi Rey ... malam ini kau sudah berjanji padaku. Kita akan makan malam bersama. Kau sudah berjanji ... hiks ...," ucap Sandra yang mulai berlinang air mata.

Rey diam mematung menatap wajah sedih isterinya. Rey mendekati dan memeluknya. Ia merasa sangat bersalah.

"Aku janji tak akan lama. Aku akan berusaha sekuat dan secepat mungkin menyelesaikan masalah ini. Aku akan pulang untuk makan malam bersamamu. Aku janji," ucap Rey yang kini memegang kedua pipi isterinya yang sudah basah karena air matanya.

"Rey ... berjanjilah kau akan pulang dengan selamat," ucap Sandra sembari meraih tangannya dan meletakkan di perutnya.

Rey tertegun. Ia menatap Sandra seksama.

"Kau akan menjadi seorang Ayah," ucapnya lirih dengan dahi berkerut menahan kesedihannya.

"Oh my God, really? Oh God! Wah ... wah!" ucap Rey tak percaya bahwa impiannya untuk menjadi seorang Ayah akan terwujud.

Rey langsung memeluk Sandra erat. Terlihat ia begitu bahagia.

"Aku pasti pulang ... Ayah pasti akan pulang, Nak! Tunggu Ayah ya ...," ucap Rey dengan senyum merekah memegang perut Sandra dan mengelusnya dengan lembut.

Sandara merapatkan mulutnya. Ia menangis sedih. Tiba-tiba, alarm peringatan muncul.

NGENGGG ...

TET! TET! TET!

"Distric 3 has been penetrated, evacuation orders are immediately carried out!"

Suara dari peringatan menggema di seluruh distrik. Terlihat kepanikan dibawah apartment Sandra dimana semua orang berhambur keluar.

Rey panik. Ia memegang lengan Sandra kuat. Tak lama, sahabat karib Sandra datang dan langsung masuk ke rumahnya.

"Sandra, ayo cepat! Kita harus evakuasi sekarang!" teriaknya lantang.

Sandra panik. Ia menatap Rey seksama. Rey langsung menciumnya dengan penuh cinta dan kekhawatiran melanda hatinya.

"Pergilah. Aku akan baik-baik saja. Aku sudah berjanji padamu akan pulang," ucap Rey menenangkan hati isterinya. Sandra mengangguk cepat. "Eliz, tolong kau jaga isteriku ya. Dia sedang hamil. Aku akan jadi Ayah," ucap Rey gembira sembari menyarungkan senjatanya.

"Oh, really? Wow, congratulations for you guys," ucap Eliz ikut bahagia.

Rey menatap Sandra seksama. Ia sudah bersiap. Rey segera berpaling dengan hati yang berat. Ia langsung berlari bersama pasukan lain yang tinggal di Apartment itu.

Sandra dan Eliz langsung menuju ke tempat pengungsian. Semua orang berlari panik dalam derasnya hujan malam itu.

Terdengar suara dentuman bom dan rentetan senjata menghiasi malam. Langit bercahaya bukan karena sinar bulan ataupun bintang, melainkan dari percikan api yang terlontar dari misil-misil yang ditembakkan dari dalam benteng Great Ruler.

Sebuah barikade langsung menutupi langit Great Ruler dengan baja agar serangan dari langit tak meluluh lantahkan pemukiman dan bangunan yang ada di dalam benteng.

Langit Great Ruler sudah tertutup sepenuhnya. Cahaya redup menerangi para pengungsi yang berjumlah hingga ribuan orang itu.

Para penjaga robot level E dikerahkan untuk melindungi para warga. Mereka diungsikan menuju ke kawasan tambang batu mulia. Sebuah tambang yang menuju ke inti bumi.

Para robot level E menjaga di sekitar tambang mengantisipasi serangan yang datang. Semua orang panik dan ketakutan.

Di ruang SIMULASI.

"Rey, kau sudah siap?" tanya petugas yang mulai mengaktifkan visual dan menghubungkan jaringan online syaraf Rey ke robot level B nya yang sudah siap di posnya.

"Yes, I'm ready."

"And 3 ... 2 ... 1 ...."

PIP.

"Hallo, welcome Captain Rey. Please check all your weapons are fully loaded or not?" ucap Simulator.


Rey mulai menggerakkan kedua tangannya mengecek di samping paha kanan kirinya seolah-olah ia sedang berada dalam robot tempur itu.

Setelah dirasa semua sistem senjata dan navigasinya aman, ia pun mulai bergerak.

"Let's move!" ucap Rey mantap.

Petugas Simulator memberikan navigasi arahan kemana Rey dan para pasukannya harus menuju. Mereka bertugas melindungi dari semua penyerang di Distrik 3.

Rey dan para pasukannya yang sudah terhubung dengan Simulator dan robot level B, dengan gagah berani melawan para pasukan penyerang.

Terlihat dalam ruang Simulator, Rey dan para pasukan yang masuk dalam team-nya bergerak dengan terampil menggunakan semua senjata yang ada dalam robotnya.

Dari pedang laser penembus baja, pistol, dan bom-bom seperti granat sudah tersedia dalam baju robot itu.

Malam itu, pertempuran sengit tak terhindarkan.

Pusat kendali Simulator di bawah tanah dijaga ketat oleh robot level D seri 05 yang telah dimodifikasi dengan misil-misil dan peluru tembus baja jika para penyerang mencoba membobol pertahanan mereka.

Robot level D mampu menghancurkan tank dengan injakan kaki robotnya.

Next-->

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Novel - THE INTERNAL

  Chapter 01. Bug dalam Game Satu juta orang terjebak di dalam game "The Internal" game virtual yang ternyata memaksa player untuk tetap berada di dalam dunia virtual jika belum menyelesaikan misi dalam game ini. Hal ini disadari oleh direktur A.I.C (adalah perusahaan di bidang IT) dan segera melakukan rapat terbatas bersama seluruh staff dan programmer dari game ini yaitu "Yeon-Jin". Dalam Rapat tersebut ditemukanlah bahwa telah terjadi error atau bug yang diakibatkan oleh proses Upgrade tidak sempurna. dalam hal ini "Ye-Jun" menyatakan memang server sempat mati sebentar" Ye-Jun : " server sempat down 1 menit karena listrik mati dan listrik cadangan tidak otomatis saat itu" Ae-Rin : " terus bagaimana ini pa!?" tanya Ae-rin sekretaris ye-jun khawatir. Ye-Jun : "kita harus memperbaiki bug tentunya, tapi tidak mungkin melakukan upgrade saat ini, karena banyak pemain dalam game" Ae-Rin : "

Novel - The SIMULATION Eps. 002

  SECRET WEAPON* Rey berlari dengan senjata laser dikedua tangannya. Ia menembak dengan berani ke semua robot penyerang di Distrik 3 agar tak tembus dan memasuki Distrik 4. Para penyerang dari Rusia yang bekerjasama dengan Siberia, menyerang Great Ruler menggunakan berbagai jenis robot dengan manusia di dalamnya. Mereka masih belum bisa menemukan teknologi SIMULATOR seperti yang diterapkan di Great Ruler. Hal inilah yang membuat mereka datang untuk mengambil semua ide kejeniusan milik Presiden Roman. Semua pasukan robot dari segala level dikerahkan oleh Presiden Roman, adiknya Presiden Morlan tak diam saja melihat negaranya diporak-porandakan. Ia mengambil inisiatif mengeluarkan senjata rahasianya yang tak diketahui oleh semua orang di Great Ruler. Hanya orang-orang yang bekerja dengannya saja yang mengetahui hal itu. Morlan pergi meninggalkan pusat komando ke Gerbang Kermogal. Sebuah gerbang besar tersembunyi buatannya dimana ia menyimpan senjata rahasianya. Gerb